REVIEW FILM THIRTEEN DAYS SERTA PAPARAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT UNTUK MENGHINDARI PERANG DUNIA KETIGA DALAM KRISIS MISIL KUBA

Posted: June 22, 2011 in forsaken world


Thirteen Days merupakan sebuah film yang berlatarkan kondisi pada masa perang dingin, tepatnya dimulai saat isu mengenai  penyelundupan rudal dan hulu ledak nuklir oleh Rusia ke Kuba perlahan sampai ke “telinga “ Amerika Serikat.  Peristiwa yang terjadi selama kurang lebih tiga belas hari yaitu dari tanggal 15 Oktober  hingga 28 Oktober 1962 ini lebih dikenal sebagai sebagai The Cuban Missile Crisis dan mungkin menjadi hari-hari paling menegangkan dalam sejarah bangsa Amerika Serikat, dimana dalam waktu kurang dari dua minggu pemerintah AS yang berada di bawah kepemimpinan John F. Kennedy harus telah memperoleh keputusan yang tepat untuk menghadapi ancaman besar yang tidak hanya akan membahayakan eksistensi Amerika Serikat sebagai negara besar, tapi juga berpotensi berkembang menjadi perang dunia ketiga dimana senjata nuklir dipastikan menjadi instrumen bagi kedua negara adidaya (AS dan Rusia) untuk saling menghancurkan.

Peristiwa ini dimulai ketika Pentagon menerima beberapa foto udara yang dikirim oleh unit angkatan udara AS yang disebut U2. Dari gambar-gambar yang tertangkap, terlihat beberapa lokasi yang diduga sebagai kamp tempat senjata pemusnah masal sedang dikembangkan. Melalui pemantauan lebih lanjut, kondisi persenjataan yang sedang dikembangkan belum mencapai 100%, namun paling lambat akan sempurna dalam waktu 14 hari. Beberapa senjata yang sedang dikembangkan yaitu beberapa rudal balistik jarak menengah yang mampu menghancurkan Washington DC hanya dalam waktu lima menit semenjak diluncurkan. Kenyataan inilah yang pada akhirnya mengurung pemerintah AS dalam tekanan besar untuk segera mengambil tindakan demi mengamankan wilayahnya, kepentingannya, sekaligus mencegah terjadinya perang yang tak diinginkan.

Berbagai pertemuan tingkat tinggi langsung diupayakan begitu isu penyelundupan senjata ini sampai ke telinga Presiden. Kennedy langsung mengumpulkan petinggi-petinggi penting untuk mendiskusikan kebijakan luar negeri yang harus diambil Amerika untuk menghindari perang, termasuk dua orang kepercayaannya yaitu Kenneth O’Donnell (Asisten Khusus Presiden) dan Robert (Bobby) Kennedy, adik kandung Presiden. Kondisi mulai berjalan rumit ketika beberapa diantara petinggi-petinggi atau kepala staf tersebut menyatakan keinginan mereka untuk balik menyerang Kuba sebelum senjata-senjata mereka rampung. Salah satunya adalah John McCone (Director CIA) yang bersikeras agar angkatan militer AS melancarkan serangan udara penuh melalui OPLAN 316 di atas Cuba dengan tujuan untuk menghancurkan dan melumpuhkan hulu ledak nuklir Soviet yang belum operasional. Salah satu alasan mereka ingin melakukan penghancuran atas misil kuba melalui serangan udara adalah untuk membalas kegagalan AS pada peristiwa di Teluk Babi.

Rancangan strategi yang ditawarkan oleh kepala staf Amerika Serikat:

  1. Menuntut Soviet untuk menarik mundur rudal-rudal mereka di Kuba dalam 12-24 jam.
  2. Soviet dipastikan akan menolak, sehingga Kennedy bisa memerintahkan agar dilakukan penyerangan diikuti Invasi, sehingga otomatis Soviet akan kalah (karena senjatanya belum operasional).
  3. Soviet dipastikan mengalihkan penyerangan ke Eropa terutama Berlin.
  4. Sesuai rencana, AS akan menghabisi Soviet di Eropa, dan yang terpenting, pertempuran ini melibatkan senjata nuklir.

Namun, setelah melalui pertimbangan yang panjang, Kennedy  yang tidak menginginkan aksi brutal pemicu perang dilakukan, mulai memikirkan jalan lain yang lebih aman dan lebih bermoral. Baginya penyerangan atas Cuba hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Soviet bisa saja beralih ke Berlin dan tentu saja perang nuklir tak dapat lagi dielakkan. Untuk itu, Kennedy mengambil beberapa keputusan yang telah dipertimbangkannya bersama beberapa petinggi yang menolak melakukan invasi ke Kuba, termasuk dua orang kepercayaannya, Kenny dan Bobby, diantaranya:

  1. Untuk menghentikan pembangunan ofensif yang diupayakan Soviet di Kuba, dilaksanakan karantina ketat kepada semua peralatan militer Kuba. Kapal dari manapun menuju Kuba bila diketahui bermuatan senjata akan dipaksa berputar kembali.
  2. Pengintaian terhadap Kuba dan pembangunan militernya ditingkatkan. Bila persiapan militer berlanjut tindakan lebih lanjut akan ditempuh. Seluruh angkatan bersenjata bersiap menghadapi segala kemungkinan.
  3. Menjadi kewajiban AS untuk menganggap peluncuran rudal dari Kuba terhadap negara barat manapun sebagai serangan  soviet terhadap AS, mengakibatkan serangan balasan, penuh terhadap Uni Soviet.

Namun, pihak-pihak yang menginginkan agar serangan udara disertai invasi ke Kuba tidak kehabisan akal. Secara sepihak mereka memulai pemotretan ketinggian rendah diatas Kuba yang hasil pemotretannya akan lebih terperinci dibandingkan U2 untuk memastikan perkiraan  kesiapan rudal-rudal mereka serta kepastian sasaran untuk serangan jika nantinya diperintahkan oleh presiden. Segera saja Kennedy dan O’Donnell mulai menyadari bahwa  mereka sedang dijebak oleh para Kepala Staf tiap-tiap departemen yang disebut EXCOM. Dengan pengiriman awak untuk memotret pangkalan hulu ledak Soviet dalam jarak dekat akan memicu ketakutan dan kemarahan para teknisi yang berada di kawasan tersebut dan dapat dipastikan mereka mereka akan balik menyerang karena merasa terancam. Jika pesawat yang dikirim diserang dan kapal-kapal yang membawa muatan bahan hulu ledak tidak mau berhenti, sesuai dengan aturan tempur Kennedy harus memberikan serangan balasan dengan menembaki kapal-kapal yang menolak untuk dikarantina serta menginvasi Kuba untuk menghancurkan kamp penimbunan rudal-rudal Soviet. Walaupun dipastikan terlambat, O’Donnell tetap berupaya mencari jalan untuk menghindari invasi, yaitu dengan mengamanatkan kepada pilot yang bertugas memotret (Komandan Ecker) agar tidak tertembak mati oleh serangan tentara Soviet dan Kuba untuk menghindari invasi besar-besaran AS ke Kuba.

Akhirnya kebijakan karantina mulai diberlakukan. Namun recana tersebut tidak berjalan mulus. Beberapa kapal Rusia (Gagarin dan Kimovsk) mulai memasuki batas karantina dan menimbulkan ketegangan di pihak AS. Meskipun telah diberikan peringatan, kapal-kapal tersebut tampak seolah tidak menggubris peringatan tersebut sehingga AS nyaris menembakkan rudal mereka untuk  melumpuhkan baling-baling kapal Soviet. Namun pada saat yang tepat, kedua kapal kapal berbelok dan memutar kembali haluannya. Untuk sesaat AS merasa lega.

Karena aksi karantina serta beberapa hal aksi yang dinilai tidak layak untuk dilakukan, pemerintah Soviet mengadakan pertemuan dengan pemerintahan AS dan turut mengundang perwakilan beberapa negara. Soviet menilai tindakan AS terlalu lancang. Dengan tegas Soviet yang diwakili oleh Gorin menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mengganggu kestabilan serta keamanan dunia dengan menyatakan bahwa Rusia telah mengirimkan persenjataan mereka ke Kuba. Gorin meminta kejelasan, dan Adlai Stevenson sebagai perwakilan Amerika berbalik menuding dan menuntut Soviet untuk menyatakan kepastian mengenai rudal-rudal ini. Hasilnya, Gorin menolak untuk mengkonfirmasi maupun membantah tudingan AS tersebut, dan di hadapan dunia Stevenson membeberkan hasil-hasil pemotretan jarak dekat yang telah diperoleh AS sebelumnya. Soviet pun bungkam.

Tenggat waktu penyelesaian senjata nuklir semakin dekat. Dari hasil pemotretan lebih lanjut diketahui bahwa rudal-rudal Soviet akan operasional dalam waktu sekitar 36 jam. Tidak hanya itu , senjata nuklir tempur Soviet (nuklir taktis jarak dekat yang disebut FROGS) juga sudah dipersiapkan di Kuba dan lokasinya sudah ditemukan, sehingga untuk mengamankan posisinya, invasi serta serangan udara secara meluas harus segera dilaksanakan. Pada akhirnya, Kennedy memutuskan untuk melakukan serangan udara diikuti invasi dalam waktu yang sudah ditentukan.

Seketika terjadi sesuatu yang mengejutkan, yaitu datangnya sebuah surat yang disinyalir dari Nikita Kurchev, yang isinya mengenai ajakan perundingan. Pada tanggal 28 Oktober 1962, Khruschev menyatakan bahwa Uni Soviet bersedia memindahkan nuklirnya asalkan AS bersedia menukar misil di kuba dengan misil di Turki. Namun O’Donnell berpendapat apabila rudal Turki di tukar dengan rudal Kuba, Uni Soviet akan menangkap kelemahan AS dan akan  terus menekan Amerika Serikat dengan tuntutan-tuntutan lainnya sehingga pada akhirnya perang tetap tak bisa dielakkan.

Namun pada akhirnya perseteruan antara Soviet dan AS berakhir saat Bobby Kennedy dikirim Presiden Kennedy untuk berunding dengan perwakilan Soviet secara empat mata di kedutaan Besar Soviet yang ada di Amerika. Dalam perundingan tersebut, Bobby menjanjikan jaminan pribadi AS bahwa rudal di Turki (JUPITER) akan ditarik, namun dalam waktu 6 bulan mendatang dengan syarat kesepakatan tersebut tidak akan diumumkan dalam bentuk apapun. Langkah tersebut ternyata berhasil. PM Kurchev pada hari ke 13 mengirim pesan pada Presiden John F.Kennedy bahwa Uni Soviet akan menghentikan pembangunaan instalasi misilnya di Kuba, serta melakuakan pelucutan senjata di Kuba berikut pengembalian senjata tersebut ke Uni Soviet. Dengan disetujuinya kesepakatan tersebut, The Cuban Missile Crisis akhirnya dapat diselesaikan dan Amerika Serikat berhasil menghindari perang serta menjaga keamanan nasionalnya.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s